Namaku Hamidah. Aku adalah salah satu murid di sekolah menengah pertama Islam yang ada di Pacitan. Teman-temankerap memanggilku Midah.

Siang ini di sekolah, bu Efy tengah asyik menjelaskan pelajaran. Guru bahasa Indonesia itu memang terkenal santundan ramah. Namun satu yang kurang disukai para murid yang di ajarnya. Suaranya yang pelan, sehingga aku yang saat itu tengah duduk di kursi paling belakang pun tak mendengar dengan gamblang penjelasan beliau. Apalagi Delia, teman sebangkuku, malah asiyk curhat mengenai kakaknya yang tak mau membelikannya baju baru untuk lebaran. Ya, saat ini kami tengah berada di bulan Ramadhan.

Tiba-tiba aku tersentak tatkala bu Efy menepuk papan tulis dengan menggunakan penghapus kayu untuk meminta perhatian anak-anak satu kelas. Anak-anak karena ini minggu terakhir kita masuk sebelum sebelum libur lebaran, Ibu memberi tugas kalian untuk membuat cerpen mengenai malam Lailatul Qadar. Tugas ini kalian kumpulkan saat hari pertama masuk setelah libur lebaran.”

Akupun kaget. Aku sama sekali tak mendengar satupun penjelasan dari bu Efy mengenai materi tadi karena sibuk mendengar curhatan Delia.

“Yah, Ibu. Kita kan mau libur lebaran, kok masih ada tugas?” tanya salah satu temanku yang duduk paling depan, Ima namanya.

“Biar liburan kalian lebih bermakna yaa. Apa yang kalian lakukan dan kalian rasakan selama sepuluh hari terakhir ramadhan, kalian tuangkan dalam cerpen itu. Paham ya?” Bu Efy menjawab dengan ramah.

“Paham Bu,” jawab teman-teman satu kelas.

***

Akhirnya liburan pun tiba. Sejauh ini aku sama sekali belum menyentuh tugas yang diberikan oleh bu Efy untuk membuat cerpen. Jujur saja, aku masih bingung dan belum punya persiapan apa-apa untuk memulainya.

Malam ini sudah memasuki malam ke-27 Ramadhan.Keluarga besarku menghabiskan waktu bersama dengan berkumpul di rumah Nenek.   Biasanya kami menghabiskan waktu sejak sore hari hingga selepas shalat tarawih. Ada nenek, ayah, ibu, pakdhe, budhe, hingga sepupu–sepupuku di sana juga. Rumah nenek memang selalu ramai di bulan Ramadhan. Kami berkumpul untuk berbuka dan tarawih bersama dilanjut tadarus. Apalagi ini malam ganjil, malam yang diharapkan turunnyaLailatul Qadar.

Di kesempatan yang sama, masih ada sesuatu yang mengganjal dibenakku. Sudah sedari tadi kusadari. Para sepupuku bercanda ria di dalam rumah, tapi tidak denganku. Sepi di teras ini, sendiri ditemani angin. Terangnya rembulan seakan melempar senyum lebar menemaniku.

“Midah, kamu sedang apa di sini? Apa tidak takut?” tanya Nenek datang dari dalam rumah sembari membawa secangkir teh panas. Beliau pun duduk di sebelahku.

“Oh, tidak nek. Di sini ramai, apalagi kalau saatnya orang-orang berangkat tarawih ke masjid seperti ini.”

“Baguslah kalau begitu. Lantas mengapa tidak masuk dan berkumpul bersama saudara-saudaramu yang lain?”

Aku tersenyum tipis. Sedikit menoleh hangatnya ruang tamu nenek yang penuh gemerisik tawa.

“Emm, sebenarnya Midah bingung nek. Sebelum liburan kemarin, guru Midah di sekolah memberi satu tugas. Membuatcerpen mengenai malam Lailatul Qadar.”

“Lantas mengapa kau termenung? Seperti dirundung utang saja,” sahut Nenek sambil tergelak. 

“Hahaha, tidak nek. Hanya saja Midah tidak tahu apa sebenarnya malam Lailatul Qadar itu. Midah takut kalau salah nantinya.”      

Sekarang giliran nenek yang tersenyum tipis. Tangannya menunjuk rembulan yang sedang purnama.

“Kau lihat itu, Midah?”

“Bulan, Nek” jawabku sedikit bingung dengan pertanyaan Nenek.

“Apa istimewanya bulan itu?” tanyaku.

“Tuhan memberi bulan yang terang pada malaikat-malaikat yang turun ke bumi.” 

“Maksudnya bagaimana, Nek?”Aku tak paham dengan apa yang nenek katakan.

“Nduk, malam Lailatul Qadar itu istimewa. Itu malam yang lebih indah dari seribu malam. Seluruh kebaikan ada di malam ini,” terang Nenek.

Aku hanya terdiam. Masih belum paham dengan penjelasan nenek.

“Lantas, bagaimana dengan cerpenku nek? Apa kaitanya dengan bulan dan malaikat yang baru saja Nenek bicarakan?“

Nenek menghela nafas panjang, bersiap-siap menerangkan.

“Nduk, saat malam lailatul qadar itu malaikat turun ke bumi, dengan membawa rahmat Allah sampai fajar menjelang.Maka dari itu, kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, memperbanyak kebaikan.”

“Cucuku, semua hal adalah kebaikan. Sama seperti malam Lailatul Qadar. Tutuplah matamu dan bayangkan segala kebaikan itu sembari menulis. Curahkan seluruh asa dan harapanmu yang kecil dari besarnya nikmat Allah.”

Aku tersenyum. Aku mulai paham atas apa yang nenek sampaikan. Intinya yang harus kita lakukan pertama adalah bersyukur dan menikmati nikmat yang telah di berikan oleh Allah kepada kita. Kemudian berpikir atas segala keberuntungan yang kita peroleh. Maka dari situlah, segala inspirasi akan mengalir. Karena Tuhan menyayangi hambanya yang bersyukur.

“Makasih Nek penjelasannya. Akhirnya Midah punya bahan untuk menulis  cerpen nanti,“ ucapku sambil tersenyum.

“Masuklah ke rumah nduk. Nikmati barakah dari Tuhan.”

Kemudian  nenekku  masuk  ke dalam  rumah. Dengan  tersenyum,  akhirnya akupun  mengikuti  beliau masuk ke dalam rumah dan berkumpul bersama-sama dengan orang-orang terkasihku menikmati hangatnya suasana malam ditutup dengan melaksanakan ibadah taraweh bersama-sama dengan harapan keluarga kami mendapat barakahNya di malam Lailatul Qadar kali ini.

Ar- Rahmah Creative Team

Penulis: FALIKHA_ARCT

Share and Enjoy !

0Shares
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *