Udara panas terik di luar sana sangatlah terasa sekali. Hiruk pikuk kendaraan berlalu lalang membisingkan telinga ini,  membuat suasana semakin tidak nyaman.

Terlihat seorang remaja cantik berpakaian lengan panjang berwarna cream pastel beserta kain pink pastel yang menutupi kepalanya. Dia juga memliki wajah yang cantik. Matanya bulat, hidungnya agak mancung, dan bibirnya tipis. Dia adalah Mahira Lathifah.

Mahira yang  sedang duduk-duduk santai menunggu sahabatnya Hana, merasa bosan dan gerah karena cuaca hari ini yang begitu panas akibat sinar matahari yang terik. Udara seperti ini menjadikan Mahira teringat masa-masa sekolahnya dulu, sebelum pandemi corona melanda. Mahira jadi teringat dulu bagaimana riuhnya siswa-siswi yang berhamburan untuk pulang. Ada yang langsung pulang, ada juga yang masih membeli jajanan sekolahan. Mahira juga teringat bagaimana dulu dia pernah debat bersama Hana karena masalah membaca buku.

***

Kringgg……Bel pulang sekolah telah berbunyi.

Dua sahabat ini berjalan melewati koridor sekolah. Mereka adalah Mahira dan Hana.

“Ra, kamu mau langsung pulang atahu kemana dulu?” tanya Hana kepada Mahira.

“Mungkin aku langsung pulang Na. Memangnya kenapa?” jawab Mahira.

“Mau temenin aku beli buku gak?” tawar Hana kepada Mahira.

”Ngapain ke toko buku, Na? Gak mau. Aku malas kalau ke toko buku. Emm…mending kita jalan-jalan aja ” ucap Mahira dengan antusias kepada Hana.

“ Ihhh…ya beli bukulah Mahira. Emang mau beli jajan apa? Namanya aja toko buku, jelas buat beli bukulah,” ucap Hana gemas kepada sahabatnya yang satu ini.

“Gak…gak mau aku pergi ke toko buku. Lagian…apa sih enaknya baca buku?”

“Ya ampun Ra…selain membaca Al Qur’an, kita itu juga harus membaca buku agar ilmu pengetahuan kita itu lebih banyak ” jelas Hana.

“Ya baca buku pelajaran kan uda nambah pengetahuan kita” ucap Mahira dengan nada malas. Hana merotasikan kedua bola matanya setelah mendengar pengucapan Mahira sahabatnya ini.

“Udah ah ayok. Pokoknya temanin aku buat beli buku ya. Sekalian aku mau beliin kamu buku juga biar kamu tahu manfaatnya membaca buku.”

Mahira mendengus sebal dan terpaksa untuk ikut sahabatnya ini pergi ke toko buku.

Sesampainya mereka sampai ke toko buku, mereka langsung menuju rak-rak buku. Hana dan juga Mahira langsung mencari buku yang ingin mereka baca. Sebenarnya Hana saja yang mencari buku Mahira cuman mengikutnya saja.

“Na, pulang aja yuk” ajak Mahira.

“Astaga Ra kita itu kesini mau nyari buku buat nambah ilmu. Kamu kenapa malas banget sih?”

Mahira pu mencebik mendengar jawaban Hana.

“Kamu di rumah kan baca buku nya? Kita kesini cuman beli saja, kan? Setelah itu kita langsung pulang?”  rengek Mahira.

“Mendingan kita baca buku di sini aja deh Ra lebih nyaman juga tempatnya.” Di toko ini juga disediakan tempat untuk membaca buku yang telah dibeli atahu sekedar duduk santai menungu eman atahu keluaga yang membeli buku.

“Gak mau. Aku maunya pulang aja Kamu baca bukunya di rumah saja ya…” Mahira tetap pada pendiriannya. Dia jadi menyesal ikut bersama Hana. Seharusnya dia tadi pulang saja daripada harus pergi ke toko buku ini. Hana lebih mementingkan mencari buku untuk dia baca dari pada mendengarkan rengekkan sahabatnya ini.

“Coba baca ini deh, Ra” ucap Hana setelah mendapatkan buku yang dia inginkan untuk Mahira.

“TIPS ASYIK JADI REMAJA MUSLIMAH?” baca Mahira saat menerima buku yang sudah dipilihkan oleh Hana. “Buku apa ini, Na?” tanya Mahira kepada Hana

“Itu buku tentang tips-tips asyik supaya kita bisa menjadi remaja yang muslimah. Ini bagus lho, Ra. Apalagi bagi kita yang sudah memasuki masa remaja ini,” jelas Hana.

“paling isiya ngebosenin, Na. Aku gak mau. Mendingan kita pulang aja ya. Kamu kalau males buat pulang kita jalan jalan aja?” tolak Mahira kepada Hana.

“Ya Allah…ini anak ya. Gini deh, aku tanya sama kamu. Memangnya kamu tahu akibat dari orang yang malas baca itu apa aja?” tanya Hana.

Mahira menggelengkan kepala tanda dia tidak tahu.

”Akbatnya orang yang malas baca buku itu banyak sekali, Ra. Pertama, kurangnya pengetahuan yang kita miliki sehingga tidak mampu bersaing dengan orang lain. Kedua, generasi muda yang malas membaca akan sulit dalam bersosial karena wawasannya yang kurang. Orang yang malas baca jadi susah mengembangkan kemampuannya, karena wawasannya terbatas, dan masih banyak lagi sebenarnya. Jadi buku itu penting Ra buat kita. Lagian kamu kenapa sih gak suka banget baca buku?” ucap Hana dengan serius.

“Kamu kan tahu sendiri Na kenapa aku gak suka baca buku,”ucap Mahira.

“Karena bosan?” Mahira pun membalasnya dengan menganggukan kepalanya

“Gini ya Ra….membaca buku itu penting apalagi bagi kita yang seorang muslim. Islam menuntut kita untuk menjadi orang yang berguna bagi orang lain. Mampu menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk membantu orang lain. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, Ra. Salah satu caranya adalah dengan banyak membaca buku. Buku adalah jendela dunia yang berisikan segala ilmu pengetahuan yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari,” ucap Hana.

Mahira diam saat mendengarkan ucapan Hana yang tidak lain adalah sahabatnya, karena Hana melihat sahabat nya yang diam dia melanjutkan omongannya yang tadi.

“Ada banyak manfaat dalam membaca buku, Ra. Pertama, menambah ilmu yang kita miliki. Menuntut ilmu melalui membaca buku sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Kedua, meningkatkan keimanan kita. Membaca buku akan meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT. Kita jadi lebih berpikiran terbuka dan rasional dalam menghadapi sesuatu sehingga keimanan kita kepada Allah pun semakin kuat. Ketiga, mengasah konsentrasi kita. Itu manfaat dalam membaca buku Ra. Jadi, mulai sekarang jangan malas baca buku ya Ra, karena buku itu penting untuk kita,”

Mahira terdiam saat mendengarkan ucapan Hana.

“Jadi selama ini aku salah dong kerena sudah malas baca buku?” ucap Mahira dengan menundukkan kepalanya karena ia merasa malu terhadap sahabatnya ini.

“Kamu nggak salah Ra. Kamu cuman belum tahu aja apa manfaat dari membaca buku itu.”

“Makasih, Na. Mulai sekarang aku akan janji buat rajin membaca buku.”

Hana tersenyum mendengarnya, lalu menanggapi ”Tapi ingat ibadah lebih utama dari pada membaca buku entar kamu rajin membaca buku ibadah di lupain lagi.”

“Hahahaha enggak lah. Aku juga tahu ibadah lebih penting dari pada membaca buku, Na,” ucap Mahira sambil tertawa.

“Udah-udah. Ayo pulang, udah mau ashar nih” ajak Hana.

“Loh…kok pulang? Gak jadi baca buku kita?” sahut Mahira keheranan.

“Di rumah saja membacanya udah mau ashar,” jawab Hana.

“Tadi aja gak mau diajak pulang sekarang situ yang ngajak” ejek Mahira.

“Ya… aku emang gak mau pulang tadi, tapi setelah melihat jam ternyata sudah mau ashar,”

“Iya deh iya, ayo pulang. Eh tapi bentar…aku mau beli buku ini dulu buat aku baca di rumah,” ucap Mahira sambil menunjukan buku yang dia pegang sedari tadi.

“Baiklah aku juga udah ambil buku yang mau aku beli.” 

Setelah mereka selesai membeli buku, akhirnya mereka keluar dari toko buku  dan pulang ke rumah masing masing. Di hari itulah awal seorang Mahira suka membaca buku.

***

“Doorrrr…”

Lamunan Mahira tiba tiba buyar karena dikagetkan oleh Hana. Hana  adalah sahabat dekat Mahira. Dia begitu menyayangi Mahira dan selalu menasihati Mahira jika Mahira melakukan kesalahan. Hana  datang dengan pakaian yang santai tetapi Nampak anggun, setelan rok biru dan baju putih panjang serta kerudung putihnya. Dia juga memiliki wajah yang cantik.

“Lagi ngelamunin apa sih, sampai aku dateng aja kamu gak sadar?” tanya Hana.

“Itu…aku cuman kangen waktu kita sekolah dulu sebelum ada pandemi corona ini.”

“Oh kangen masa masa sekolah? Eh gimana…jadi gak nih kita pergi ke toko bukunya?” tanya Hana. Memang kedatangan Hana adalah ingin menemani sahabatnya pergi ke salah satu toko buku di dekat sekolah mereka.

“Jadi dong, udah bawa masker sama hand sanitizer, kan?” tanya Mahira.

“ Udah dong” jawnab Hana sambil mengangkat sebuah kantong kecil berisi perlengkapn yan ditanyakan Mahira.

“ Ya udah kalau begitu ayo berangkat!”

“Ayo!”

Akhirnya mereka berdua langsung pergi menuju toko buku dekat dengan sekolah mereka dengan semangat. Semangat untuk menambah wawasan dan membuka jendela dunia. Membaca ialah upaya merengkuh makna, ikhtiar untuk memahami alam semesta itulah mengapa buku di sebut jendela dunia, yang merangsang pikiran agar terus terbuka. – Najwa Shihab –

Ar-Rahmah Creative Team
Penulis: Meli ARCT

Share and Enjoy !

0Shares
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *