Siang itu, seusai belajar di sekolah, kami-Aku, Farah, Rendra, Bintang, Dian, Dyah, Aji, dan Dion- pulang bersama-sama, melewati jalan berliku nan terjal. Ya, itulah gambaran desa tempat aku tinggal. Jalanan belum beraspal, lingkungan asri yang dikelilingi pegunungan menghijau, serta sejuknya udara, masih dapat kami nikmati karena belum banyaknya polusi. Hamparan sawah yang menguning, menandakan padi telah siap dipanen pun menambah indahnya suasana desaku. Bersyukur kami atas segala karuniaNya  ini.

Di perjalanan kami yang memang agak jauh, jarak antara sekolah dengan rumah, kami melewati jalan yang di sisi kanan dan kirinya dikelilingi bukit. Sembari sesekali mengusap keringat yang menetes, kami tetap semangat melangkahkan kaki. Saat melalui bebukitan kami berhenti sejenak, untuk istirahat dan minum. Tiba-tiba Farah berseru, “Kawan, lihatlah bukit sebelah sana!” sambil jari telunjuknya mengarah ke bukit yang dimaksud. Serentak kami memandang ke arah yang ditunjuk oleh Farah. “Lihat…betapa memprihatinkan sekali bukit itu, bukit yang dulu menghijau kini tampak tandus dan gersang,” lanjut Farah dengan wajah sedih. “Iya…bukit yang dulu penuh pepohonan kini gundul tanpa sisa,” Rendra menimpali perkataan Farah.

Karena ulah beberapa orang yang tak bertanggung jawab, hutan yang ada di bebukitan itu kini memprihatinkan. Banyak pohon ditebang atau istilahnya ilegal logging, serta pembakaran hutan untuk membuka lahan baru. “Apa yang akan terjadi bila pohon terus ditebang tanpa perhitungan seperti ini, kawan?” tanya Bintang. “Punahnya keanekaragaman hayati!”, jawab Dian dengan menggebu-gebu. “Iya, benar sekali itu,” sahut Rendra sambil menjentikkan jari membenarkan ucapan Dian. “Sekarang banyak binatang-binatang yang pergi ke rumah-rumah warga,” lanjut Rendra .

Hutan adalah habitat tempat tinggal satwa juga tumbuhan langka, bila hutan menjadi gundul maka dapat dipastikan habitat di dalamnya akan mengalami kepunahan.

“Kalau menurutku, menurunnya sumber daya air,” ujar Dyah dengan bertopang dagu. Ya….hutan dapat berfungsi menampung air hujan, yang kemudian diserap dalam tanah, kemudian akan muncul sumber air dari dalam tanah.

“Yang paling parah dan berdampak pada kita adalah banjir dan tanah longsor,” jawab Shovi.

Akibat hujan deras, tanah yang di hutan yang gundul tak akan mampu menahan air sehingga terjadilah banjir dan tanah longsor. “Tanah longsor…!”, tiba- tiba Aji berteriak keras, sehingga membuat teman-temannya terkejut.

“Iya, Aji…. ada apa?” tanya Dion dengan kaget. “Akibat tanah longsor yang terjadi di desa sebelah bulan lalu, rumah nenekku roboh,” ucap Aji sambil berkaca-kaca.

“Aku akan balas perbuatan para pembalak liar itu… mereka harus bertanggung jawab atas musibah yang menimpa nenekku!” Aji melanjutkan ucapannya sambil berkacak pinggang.

“Sabar…tenang Aji. Kita tidak bisa main hakim sendiri, biarlah pihak yang berwenang yang akan memberikan sanksi pada mereka, pembalak liar itu!” sahut Shovi.

“Ya Shov … tapi kamu tidak tahu rasanya kehilangan rumah!” jawab Aji dengan berapi-api.

“Iya Ji… kami mengerti dengan kesedihanmu tetapi biarlah hukum yang akan memberikan sanksi pada mereka!” kata Farah.

Hari semakin siang, kami pun melanjutkan perjalanan sambil mengingat pelajaran yang baru diajarkan di sekolah bahwa hutan harus dijaga dan dilestarikan. “Farah, tadi apa saja ya cara untuk memulihkan dan mengembalikan hutan yang gundul ?” tanya Dion.

“Kalau seingatku sih, dengan memberlakukan sistem tebang pilih ya,” jawab Farah. “Jadi kita diperbolehkan menebang pohon tetapi yang sudah tua, bukan yang masih kecil pun ikut di tebang.” 

“Dengan reboisasi juga bisa, yaitu menanami kembali hutan yang gundul,” sahut  Shovi. “Iya …berarti kepala Aji yang gundul juga harus  direboisasi ya…ha….ha….ha” kelakar Dion. Mereka tertawa lepas mendengar ucapan Dion.

“Apa….. kau menghinaku ya Dion, awas kujitak kepalamu nanti ya!” geram Aji. “Sabar Ji..kita kan cuma bercanda” jawab Dion sambil tersenyum. “Maafkan aku ya, jangan marah lagi!” sambungnya.

Dyah nampak berfikir, lalu ia pun berkata “Memberikan sanksi pidana seberat-beratnya terhadap pelaku pembalakan!” benar sekali, sanksi yang diberikan harus menimbulkan efek jera sehingga mereka tidak mengulangi perbuatan yang merugikan lagi.

“Seingatku sih, sanksi untuk pelaku pembalakan liar sudah ada aturannya,” tambah Rendra. Harus ada kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat agar peraturan dapat dilaksanakan dengan maksimal.

“Teman-teman, karena begitu besar manfaat hutan serta begitu besar dampak akibat kerusakan hutan, marilah kita sebagai generasi penerus bangsa, bijak dalam memanfaatkan dan melestarikan hutan kita” ujar Shovi.

“Caranya bagaimana Shov?” Tanya Aji.

 “Diawali dengan menanam pohon di sekitar rumah kita. Jika sudah  ada pohon-pohon di sekitar kita, kita rawat. Dan ingatlah bahwa kita diciptakan oleh Tuhan sebagai khalifah dimuka bumi, yang bukan hanya menjadi penikmat dari anugerah Tuhan tetapi kita harus pula menjaga dan merawatnya. Agar negara kita menjadi negara yang baldatun thayyibatun warabbun ghofur atau…”

“Gemah ripah loh jinawi,” sahut Rendra.

“Wah….hebat kamu Shov!” puji Dion dan tema-teman yang lain sambil mengacungkan ibu jari. Shovi pun tersenyum senang mendengar pujian dari teman-temanya.

Hari menjelang siang, mereka pun melanjutkan perjalanan sambil bercakap-cakap dan bercanda hingga sampai rumah masing-masing. Hal yang terpenting bagi mereka adalah menanamkan sikap dalam menjaga kelestarian hutan dengan membuat motto “LINDUNGI HUTAN KITA, HUTAN ADALAH NAFAS KITA.”

Ar-Rahmah Creative Team 
Penulis: SHOVI _ARCT

Share and Enjoy !

0Shares
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *