Pagi ini Hauri sudah dibuat bingung karena besok adalah hari ibu. Sekolah Hauri mengadakan berbagai macam lomba. Ada lomba cipta dan baca puisi, menyanyikan lagu, menggambar, dan menulis cerpen. Semua lomba bertema ibu.

Sekian lama berfikir dan dibantu memilih oleh Allan-yang tak lain adalah kakak Hauri, akhirnya Hauri memutuskan untuk mengikuti lomba cipta dan baca puisi. Berjam-jam Hauri mencari ide, namun tak kunjung dapat, hingga tak terasa sekarang jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan puisi Hauri belum selesai. Rasa kantuk sudah Hauri rasakan sejak tadi. Akhirnya, setelah cukup lama berfikir, puisi Hauri selesai juga.

“Huh, akhirnya selesai juga !!” ucapnya bangga sembari memandang teks puisi buatannya.

Hauri ingin menjadikan puisi ini sebagai surprise untuk bundanya saat lomba, karena saat lomba besok para ibu dari semua siswa akan datang ke sekolah menghadiri undangan. Selanjutnya Hauri berlatih mimik wajah, penghayatan, dan intonasi puisi. Kini jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Setelah merasa cukup, Hauri pergi ke ranjang dan memulai tidurnya.

PUKUL 03.00 WIB
KRING KRING KRING!!!
Bunyi alarm apel milik Hauri memekikkan telinga.
“Hauri bangun!! Salat tahajud dulu!!” teriak bunda Hauri dari depan kamarnya.
“Iya Bunda, sebentar lagi ya,” balas Hauri yang nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. Ia melanjutkan tidurnya lagi.

PUKUL 03.15 WIB
“Hauri ayo bangun ! Salat tahajud, lalu mandi. Nanti kesiangan kalau malas-malasan begini!” ucap bunda sambil menepuk-nepuk pipi Hauri.
“Sekarang jam berapa bunda?”
“Jam tiga seperempat, ayo cepat bangun.”
“Bunda…Sekarang Hauri masih ngantuk!!” kata Hauri sedikit membentak.
“Nanti Hauri bangun kok!! Bunda lanjut masak saja sana!” ucapnya lagi.
“Ya sudah, bunda nggak tanggung jawab kalau nanti kesiangan!” tegas bundanya.

PUKUL  04.00
“Astaga Hauri kenapa belum bangun, bunda kira sudah siap-siap,” ucap bunda Hauri tegas, sembari menyibakkan selimut Hauri agar Hauri segera bangun.
“Ha??? Sekarang jam berapa bunda? Maaf, Hau-“
“Tadi bilangnya janji, sekarang malah belum bangun, jagi gadis jangan malas-malasan Hauri!! Bunda dari tadi repot di dapur masak ini-itu, kamu malah tidur, belum siap-siap Bunda ngurusin banyak hal Hauri, bukan cuma kamu. Jadi tolong bantu bunda, kamu jangan susah diatur!! Sana salat lalu mandi!!” tutur bunda Hauri panjang lebar kemudian kembali ke dapur. Ya, bunda Hauri marah

Hauri pun langsung beranja untuk wudhu kemudian melaksanakan salat subuh. Usai salat, Hauri langsung mandi. Setelahnya Hauri pergi ke dapur membantu bundanya dengan muka yang sedikit takut, mengingat tadi Hauri sudah membuat bundanya marah. Hauri menyapu ruang-ruang di rumahnya, hingga sampailah di ruang keluarga. Saat hendak menyapu kolong meja Hauri tidak sengaja menjatuhkan vas bunga yang ada di atas meja.

PRANG!!
Vas itu pecah dan pecahannya berserakan di lantai.
“Itu bunyi apa Hauri?” teriak bunda Hauri dari arah dapur.
“Maaf bunda vas bunga di ruang keluarga pecah, tadi ndak sengaja kesenggol pas mau nyapu bawah meja,” ucap Hauri sambil menundukkan kepala dan meremas ujung bajunya. Bunda Hauri berjalan menghampiri Hauri.
“Hauri lain kali hati-hati! Vasnya belum lama bunda beli, belum ada sepekan dan sekarang sudah pecah,” kata bunda Hauri kecewa. “Sekarang Hauri bersihkan pecahan vasnya. Setelah itu langsung ganti baju, lalu panggil Mas Allan. Kita sarapan.” Hauri mengangguk, “Iya Bunda, maaf,” Hauri berdiri kemudian berjalan ke kamarnya.

Setelah makan, Hauri dan bundanya diantar Allan pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah, Hauri berjalan menuju kelas. Jujur, hari ini Hauri merasa sangat bersalah pada bundanya. Ia sudah membentak dan memecahkan vas Bundanya. Hauri bertekad, bahwa hari ini Ia harus berusaha sebaik mungkin. Ia ingin menebus kesalahannya dengan tampil lomba sebaik mungkin. Hauri yakin Ia pasti bisa.
“Hai Hauri!” sapa seseorang degan ceria. Itu Echa, salah satu teman dekat Hauri di sekolah.
“Hai Cha!” sapa Hauri. Berlanjutlah obrolan mereka sambil berjalan menuju kelas.
“Oh iya…kamu ikut lomba apa, Cha?” tanya Hauri.
“Hmmm… aku cuma ikut lomba menggambar, sih. Kamu ikut apa?” balas Echa. Memang Echa pandai menggambar. Asal kalian tahu, setiap pelajaran menggambar Echa selalu mendapat nilai tertinggi di kelas.
“Aku ikut cipta dan baca puisi, Cha” jawab Hauri.

Akhirnya lomba pun dimulai. Para ibu sudah duduk di kursi yang disediakan. Ini saatnya lomba puisi. Para peserta dipanggil sesuai urutan pendaftaran. Hauri medapatan urutan ke sebelas dan masih ada sedikit waktu untuk berlatih lagi. Hingga tiba urutan Hauri… “Kita panggilkan peserta ke sebelas, Hauri Anindya!” Panggil Bu Ratih, selaku MC lomba. Aku segera maju. Hauri membungkukkan badannya.
“Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh!” 
“Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh!” jawab para undangan.
Hauri menarik napasnya pelan. Lalu mulai membacakan puisi yang memang sudah Ia hafal.

Terima Kasih Bunda
(Karya: Hauri Anindya)
Bunda… Kau bagai mentari yang terangi siangkuKau bagai cahaya bulan yang menyinari malamkuKaulah perisai yang melindungi diriku Kaulah payungku kala hujan menderuBunda…Kau rengkuh aku kala rapuh Kau belai aku kala berpeluh Kau bangunkan aku kala terjatuh Kau topang aku kala aku runtuh Bunda… Kasih sayangmu luas bak langit biruMaafmu tak  terbatas bagai samudra biruTutur katamu bak melodi yang mendayuCintamu abadi tak habis oleh waktuBunda…Maafkan aku saat torehkan kecewa di kalbumuDisaat runtuhkan harapmuDisaat tak mampu nyatakan impianmuSegala maaf dan terima kasih dari anakmu

Prok.. Prok.. Prok..
Tepuk tangan yang sangat-sangat bergemuruh. Hauri melihat sekilas bundanya di kursi penonton, matanya tampak berkaca-kaca. Hauri membungkukkan badan dan turun dari panggung. Ia memberi teks puisinya kepada juri. Langsung Ia memeluk bundanya.
“Puisinya sangat bagus, sayang. Kejutan yang sangat istimewa,” ucap bundanya seraya mencium pipi Hauri.

“Makasih bunda! Hauri minta maaf, tadi pagi Hauri membentak dan memecahkan vas milik bunda. Hauri belum bisa menjadi anak yang baik. Hauri berjanji, akan belajar jadi lebih baik,” ucap Hauri masih memeluk bundanya.
“Iya sayang, bunda juga minta maaf sama Hauri, kalau bunda galak, bunda cerewet, itu artinya bunda sayang sama Hauri,” balas bunda Hauri diakhiri kekehan dan senyuman.
“Iya bunda,” ucap Hauri. “Andai ayah ada di sini, pasti Hauri lebih seneng. Tapi sayang, ayah lagi dinas di luar kota,” urainya dengan seikit cemberut. “Kalau begitu, Hauri ke kelas dulu ya, bunda” pamit Hauri yang dibalas anggukan oleh bundanya.

Tiba saatnya pengumuman juara lomba cipta dan baca puisi. Rasa tegang  dan gugup menyelimuti Hauri. “Baik, saatnya kejuaraan lomba cipta dan baca puisi dengan tema ‘ibu’. Juara tiga adalah Kana Nabila. Kana segera maju. Juara 2 adalah Nando Saputra. Nando silakan maju. Dan juara satu adalah…” Pak Budi selaku Kepala sekolah memutuskan pembicaraannya. “Ih! Pak Budi suka begitu deh! Pasti selalu bikin deg-degan kalau ngumumin juara” batin Hauri. “Hauri Anindya, Hauri segera maju ke depan!”

Hauri terkejut bukan main. Tak menyangka bisa juara 1. Puji syukur Ia ucapkan pada Allah. Hauri menerima hadiahnya. Bundanya bangga kepada Hauri. Bunda Hauri memeluk Hauri sangat erat. Bukan kemenangan yang membuat Hauri sangat bahagia, tetapi peluk dan cium dari sesorang yang spesial baginya di hari istimewa ini, yaitu bundanya. (tamat)

Ar Rahmah Creative Team
Penulis : Intan Septiana
Ilustrator : Rifda Salsabila

Share and Enjoy !

0Shares
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *