Karya dibuat oleh Ar Rahmah Creative Team

Pagi itu udara sangat cerah. Sang surya menampakkan dirinya dengan ceria. Leni menjalankan sepedanya dengan pelan menuju rumah sakit. Leni merupakan sosok yang penuh kasih saying dan penyabar. Ia seorang perawat yang bertugas di sebuah Rumah Sakit Swasta yang ada di Surabaya. Baru saja rumah sakit tersebut dijadikan sebagai rumah sakit rujukan untuk pasien covid-19. Ia pun ditunjuk sebagai salah satu petugas medis yang menanganinya.

Sesampainya di Rumah Sakit,  Leni langsung masuk ke ruangan khusus. Tak lupa ia menyapa temannya.
“Hai,” sapa Leni.
“Hai,” jawab temannya  sesama perawat.
“Gimana kabar hari ini?” tanya Leni.
“Alhamdulillah baik,” jawab temanya sambil berdiri di depan pintu.
Sesaat…ia terpaku menatap seragam kebesaran yang minggu depan akan ia gunakan untuk berperang melawan virus mematikan itu. Ia tahu, saat itulah ia mulai melaksanakan tugas berat. Ia harus berjuang selama 6 jam lamanya untuk membantu dokter menangani pasien dengan tubuh yang tertutup rapat oleh seragam kebesaran, melawan rasa panas, haus dan lapar.

Ia pun tahu bahwa resiko yang harus dihadapi juga besar. Bisa saja virus itu menular. Bahkan, tak luput ajal taruhannya. Sebagai bagian dari tim medis yang bertugas di garda terdepan melawan virus yang membahayakan, ia sudah siap dan rela mengorbankan waktu dan pikiran, bahkan nyawanya demi menolong dan menyelamatkan ribuan pasien.
Sore ini…setelah selesai menjalankan tugas, Leni masuk ruangan untuk ganti baju. Tak sabar ingin segera pulang menuju rumahnya. Di tengah jalan, tiba-tiba terdengar hpnya berbunyi. Ternyata itu telepon dari sang ibu.
“Halo, iya bu?” jawab Leni.
“Iya bu, ini sudah di jalan.
“Ini nduk, gula sama telurnya habis. Kamu beli sekalian yaa,” jawab ibunya.
“Oh.. iya bu. Ini nanti Leni bisa mampir di toko bu Siti saja.””
“Ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya nduk pulangnya,”” ucap ibu Leni mengakhiri teleponnya.

Tak berselang lama, akhirnya ia sampai di depan toko Bu Siti yang ada di ujung jalan. Toko Bu Siti pun cukup dekat dengan rumahnya. Leni segera menaruh sepedahnya. Bu Siti tahu yang tahu bahwa Leni akan menghampiri tokonya, ia segera berucap “Maaf Len, tokonya mau saya tutup.” “Lho..kenapa, Bu?” tanya Leni.

Tanpa menjawab apapun Bu Siti bergegas untuk menutup tokonya. Dengan wajah bingung Leni pun memberanikan diri untuk bertanya lagi.
“Kenapa ya Bu kok sepertinya Bu Siti ketakutan saat melihat saya?” tanya Leni.
“Rumah sakit kamu kan sekarang jadi rujukan pasien Covid. Sudah…sudah. Kamu cepat pergi saja dari sini!” Jawab Bu Siti sambil memandang sinis dan meninggalkan Leni.

Leni pun  pergi. Ia berencana untuk ke toko Bu Ana yang terletak di seberang jalan. Toko Bu Ana kelihatan ramai sekali. Terdengar suara riuh ibu-ibu berbelanja sambil bercanda. Setibanya di toko Bu Ana, ibu-ibu tadi langsung berhamburan pergi meninggalkan toko. Bu Ana yang juga tahu bahwa yang datang adalah Leni akhirnya  berkata, “Stop Leni…stop! Jangan belanja di sini. Kamu tidak melihat ibu-ibu tadi pergi melihat kehadiranmu?!” hardik bu Ana sambil berkacak pinggang.
“Kenapa ya Bu?” tanya Leni kebingungan.
“Kamu ini pura-pura ndak tahu, yaa. Sudah jelas rumah sakit tempatmu bekerja itu sekarang dijadikan rujukan Covid. Pasti kamu juga membawa virus ini. Pergi sana jauh-jauh. Jangan tularkan virus ini kepada kami!” ucap Bu Ana. Bu ana pun langsung meninggalkan Leni.
“Tapi Bu…ini saya baru minggu depan tugasnya menangani pasien covid,” jelas Leni tapi tak dihiraukan oleh Bu Ana.
“Mengapa ya orang-orang ini berpikiran negative dulu? Padahal tugasku menangani pasien covid baru dimulai minggu depan. Jika nanti sudah bertugas pun, aku sudah berencana untuk tidak pulang ke rumah dulu,” gumam  Leni. Dengan rasa kecewa dan lelah, Leni segera pulang. Ia sudah lelah dengan keadaanya saat ini.

Tak cukup itu, kedatangan dirinya di rumah pun langsung disambut dengan tatapan sinis dari para tetangga. Tak sedikit tetangganya juga menjahuinya.
“Seharusnya si Leni itu tidak usah pulang dulu, karenakan kalo pulang pasti ya membawa virus dan akan menular kemana mana,” bisik tetanggnya.
Leni pun mendesah berat. Ia tahu resiko pekerjaannya sebagai perawat yang ditunjuk untuk merawat pasien covid memang berat. Namun, ia tahu apa yang harus ia lakukan dengan semua itu. Ia tetap menjaga kebersihan dan menjalankn protokol kesehatan sesuai yang diajarkan dari pihak rumah sakit. Ia tidak akan sembrono. Ia harus kuat. Untung masih ada ibunya yang selalu menguatkan meski jarak terbentang.

“Yang sabar, Nduk. Kamu harus kuat. Kamu tidak boleh kalah sama tingkah laku mereka. Pekerjaanmu saat ini adalah pekerjaan yang mulia. Saat semua orang menjauhimu, Ibu akan selalu mendukungmu. Ibu akan selalu berdoa untuk keselamatanmu.” Leni pun tersenyum mengingat wejangan ibu. Ia tahu…masih ada sosok hebat yang senantiasa mendampingi dan menguatkannya. Ia tidak boleh kalah dan takut. Karena  tidak semua sindiran ata cacian yang dilontarkan harus dijawab dengan kata kata melainkan dengan kesungguhan dan kebenaran dalam bertindak itulah yang menjadi bukti nyata.                                                

-Tamat-

Team ARCT :
Penulis : Nurul Nadiyah

Share and Enjoy !

0Shares
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *